KeislamanKisah Inspiratif

Kedisiplinan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Memimpin Yang Perlu Kita Pelajari

Ada banyak orang yang ingin menjadi pemimpin, tetapi hanya sedikit yang memiliki kualitas kedisiplinan sebagai seorang pemimpin. Salah satunya adalah Abu Bakar Ash-Shidiq. Kisah sahabat Rasulullah ini betul-betul layak diteladani bagi manusia selaku pemimpin di muka Bumi.

Abu Bakar merupakan khalifah sekaligus salah satu sahabat terdekat Rasulullah SAW. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang lembut, jujur, dan mementingkan rakyatnya sendiri. Ketegasan dan kedisiplinannya pun mampu membawa rakyat kepada kemakmuran.

Karena sifatnya yang begitu jujur, ia pun mendapatkan julukan Ash-Shiddiq atau ‘orang yang jujur’. Kejujuran ini meliputi banyak aspek mulai dari berkata yang benar, tidak korupsi, dan tidak melakukan fitnah demi melanggengkan kekuasaan.

Enggan Memanfaatkan Fasilitas Negara demi Kepentingan Pribadi

Kekuasaan dapat memabukkan banyak orang. Dengan kekuasaan, seorang manusia dapat membuat dirinya sendiri merasa nyaman. Karena terbuai oleh kekuasaan, banyak pemimpin yang kemudian menyalahgunakan fasilitas negara untuk hal-hal yang sifatnya pribadi. Perbuatan ini tidak hanya merugikan rakyat tetapi juga membuat kita menjadi orang yang semena-mena.

Sebagai seorang khalifah, Abu Bakar mendapatkan banyak fasilitas dan akses terhadap kemewahan. Namun, alih-alih memanfaatkannya untuk diri sendiri, ia justru malah melepaskan hidupnya dati hal tersebut. Dengan kekayaan yang dimilikinya, Abu Bakar memerdekakan banyak hamba sahaya. Dalam pidato pertamanya setelah terpilih sebagai khalifah, Abu Bakar pun berkata bahwa kendati ia diangkat sebagai pemimpin, bukan berarti ia lebih baik. Ia meminta kepada para rakyatnya untuk meluruskannya jika ia salah dan meminta agar kejujuran dijunjung tinggi.

Sifat jujur dan dermawan Abu Bakar ini terlihat pada penegakan zakat dalam kepemimpinannya. Ada banyak orang yang enggan berzakat karena menganggap bahwa perintah ini sudah tidak relevan lagi sepeninggal Rasulullah, padahal, perintah berzakat berlaku sampai kapan pun.

Zakat digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dan untuk membangun berbagai fasilitas publik agar dapat bermanfaat bagi rakyat. Penegakan zakat ini membuat rakyat di bawah kepemimpinan khalifah Abu Bakar hidup makmur.

Penempatan Panglima Terbaik yang Strategis

Tidak hanya mampu menyejahterakan rakyat, sebagai khalifah, Abu Bakar juga memiliki kemampuan perencanaan yang begitu baik dan strategis. Ia mampu membaca kemampuan orang-orang dan memilih mereka yang terbaik untuk menjadi para panglima.

Para panglima ini memiliki tugas strategis dan spesifik layaknya menteri. Pemilihan panglima yang benar dan profesional membuat segala aspek kehidupan masyarakat menjadi lebih teratur.

Ketegasan dan kedisiplinan Abu Bakar dalam mengatur para panglimanya membuat ia menjadi disegani. Pada masa itu, begitu minim tindak korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan dari para panglima dan komponen lain dalam pemerintahannya.

Menjadi Pemimpin  Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sebetulnya, tidak sulit untuk menjadi pribadi yang jujur dan berpihak kepada kebenaran. Namun, godaan kerap kali hadir pada hati manusia untuk berbuat hal-hal yang buruk.

Agar dapat menjadi seperti Abu Bakar, mula-mula hilangkan perasaan ingin berkuasa dan ingin dipandang lebih tinggi. Semakin Anda ingin berkuasa, semakin Anda jauh dari kebaikan.

Selain itu, belajarlah untuk berpuas diri. Belajar untuk bersyukur menjauhkan Anda dari sifat yang tamak dan menginginkan hal-hal yang berlebihan.

Ketika Anda menjadi pemimpin, fokus Anda haruslah untuk menyejahterakan rakyat dan menegakkan keadilan. Niat yang melenceng sedikit saja akan membawa Anda pada kesengsaraan dan keinginan duniawi yang tidak akan ada habisnya.

***

Itulah kisah sahabat Rasulullah Abu Bakar Ash-Shidiq yang layak dijadikan sebagai inspirasi untuk menjadi pemimpin yang baik. Tahan ego, kendalikan hawa nafsu, dan jangan tamak akan harta dan kekuasaan.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close