Kisah Inspiratif

Kisah inspiratif: Rasulullah Sebagai Pengusaha Islam

Selain dikenal dengan kebaikan sikap dan perilakunya, Nabi Muhammad SAW juga menjadi pengusaha Islam yang sangat sukses, cerdas, dan amanah.

Segala perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW adalah contoh sebaik-baiknya bagi seluruh umat di dunia, sebagaimana dicantumkan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”

Dalam hal berdagang pun, Rasulullah memiliki banyak sifat dan cara berbisnis yang bisa kita teladani. Rasulullah sendiri menjadi pebisnis sukses di usia muda yaitu dua puluh lima tahun. Sebagai pebisnis, beliau mengutamakan nilai-nilai kejujuran.

Buat kita sebagai pengusaha atau start-ups, berikut beberapa kisah inspiratif Nabi SAW sebagai pengusaha Islam.

1. Memulai di Usia Muda

Rasulullah telah ditinggalkan Ayahnya Abdullah saat beliau masih dalam kandungan. Sang Ibu, Aminah, meninggal enam tahun kemudian. Sejak kematian kedua orang tuanya, Rasulullah diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib.

Tidak lama setelah itu, sang kakek pun meninggal sehingga nabi SAW tinggal dan hidup bersama pamannya Abu Thalib. Sedari masih anak-anak, Rasulullah tidak ingin menjadi beban bagi pamannya. Beliau tahu bahwa pamannya bukanlah orang yang berada dan memiliki keluarga besar untuk dinafkahi.

Rasulullah kerap bekerja sebagai penggembala untuk penduduk Mekah dan mendapat sedikit imbalan saat masih kecil. Di usia anak-anak, beliau juga pernah ikut pamannya ke Syria untuk berdagang. Dari pamannya lah Rasulullah belajar tentang berdagang.

2. Memulai Berdagang Tanpa Modal

Walaupun tidak memiliki modal pun kita tidak boleh patah semangat. Menjadi pengusaha Islam, Rasulullah pun pada awalnya tidak memiliki modal. Saat memutuskan untuk mulai berdagang di Mekah, beliau memulai usahanya dengan menjadi shahibul maal atau manajer perdagangan dengan sistem bagi hasil. Di usia 25 tahun, Nabi SAW sudah dikenal sebagai pebisnis sukses.

Dalam melakukan bisnis, Rasulullah bukan hanya mencari nafkah tapi juga membangun reputasi yang baik sebagai pedagang. Tiga hal yang sangat dipegang teguh adalah jujur, saling menguntungkan kedua belah pihak, dan mengutamakan produk dengan mutu tinggi.

Dan visi Rasulullah dalam berbisnis harus kita teladani. Bagi beliau, transaksi bisnis bukanlah dimaksudkan untuk memupuk kekayaan pribadi. Namun, justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnis yang tentu disertai dengan etika bisnis yang tinggi. Selain itu, bersedekah dari hasil bisnis kita adalah yang paling utama.

3. Dikenal Sebagai Pengusaha Jujur dan Amanah

Memulai bisnis di usia belasan tahun dan mendapatkan kesuksesan di usia dua puluh lima tahun, Nabi Muhammad SAW mendapatkan gelar Al Shiddiq yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti benar atau amanah. Selain gelar tadi, Rasulullah juga mendapat julukan Al Amin atau dapat dipercaya.

Rasulullah telah melakukan lawatan bisnis sebanyak enam kali. Beberapa negara yang pernah dikunjungi untuk kepentingan bisnis tadi adalah Suriah, Bahrain, Yordania, dan Yaman. Dari semua kunjungan tersebut, Rasulullah selalu mendapatkan kesuksesan besar dan bahkan tidak pernah mengalami kerugian.

4. Prinsip Dasar

Ada beberapa prinsip dasar yang dipegang teguh sebagai pengusaha Islam.  Dalam buku “Muhammad: A Trader”, Prof. Aflazul Rahman menjelaskan bagaimana Rasulullah telah menjalankan prinsip manjemen bisnis modern, yaitu customer satisfaction, service excellence, efisiensi, transparansi atau kejujuran, serta persaingan yang sehat dan kompetitif.

Dari buku tersebut, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah selalu menjaga janjinya dan tidak pernah lalai akan tanggung jawab dalam bisnis yang dijalankan. Selanjutnya, Nabi SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan yang sangat tinggi. Dengan mengambil margin keuntungan secukupnya, barang-barang yang dijual Rasulullah selalu laku dibeli.

Selain memiliki sifat-sifat baik, kecerdasan, kejujuran dan tingginya tanggung jawab Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan bisnis menjadikannya pengusaha Islam yang sukses, handal, dan dapat dipercaya. Mari kita sama-sama mengamalkan ajaran Rasulullah dalam usaha kita mencari nafkah yang penuh berkah.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close