Kaidah Fikih

Shalat Sebagai Pertolongan dan Pencegahan Bagi Seorang Muslim

Shalat merupakan salah satu media komunikasi vertikal kepada Allah SWT. Yang dapat membangkitkan kesadaran manusia akan jati diri dan hakikat kehidupannya. Artinya shalat dapat menjadi alternatif solusi dalam berbagai persoalan hidup, karena spirit shalat adalah membangunkan kesadaran diri yang paling dalam atas apa saja yang terjadi dan dialami oleh manusia.

Di saat manusia merasakan kegalauan diri karena dinamika kehidupan zaman yang cenderung mengalami pergeseran nilai agama dan budaya sehingga dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku yang ada maka sesungguhnya manusia akan mencari-cari penawar hati dari segala keresahan dan kegalauan tersebut. Di sinilah mulai bersemi kembali nilai-nilai spiritualitas yang ingin direguk untuk membasahi dahaga keringnya moralitas yang selama ini dirasakan. Kembali kepada ajaran agama yang begitu banyak menawarkan tentang arti dari kepribadian yang berakhlak mulia, jauh dari kerusakan dan penyimpangan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Shalat secara etimologis sebagaimana definisi dalam ”Kamus Besar Bahasa Indonesia,” shalat adalah “rukun Islam yang kedua, yang dilaksanakan dalam bentuk ibadah kepada Allah swt. yang wajib dilakukan oleh setiap muslim mukallaf dengan syarat, rukun dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.” 

Shalat adalah doa, rahmat dan minta ampun. Kata shalat dalam bahasa arab dan al-Qur’an digunakan dalam berbagai pengertian yaitu do’a dan rahmat seperti dalam beberapa firman-Nya, yaitu: shalat dalam arti do’a tercantum dalam surat at-Taubah ayat 103:

“…Dan doakanlah untuk mereka, sesungguhnya doa engkau itu ketentraman untuk mereka …”. (Qs. at-Taubah: 103) 

Dan ternyata sholat juga memiliki fungsi untuk menyehatkan jiwa dan raga seorang muslim seperti halnya tercantum dalam hadist:

…. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut senada dengan firman Allah, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (al-Ankabut: 45)

Kualitas hati menentukan baik buruk diri seseorang. Dan shalat menghindarkan seseorang dari hal-hal keji dan mungkar, yang merupakan perwujudan keburukan hati. Sholat adalah amalan yang memengaruhi kualitas hati dan menyembuhkannya dari penyakit yang tidak membaikkannya.

Muhammad Bahnasi (2010) dalam Sholat Bersama Nabi SAW mengatakan, shalat adalah alternatif relaksasi yang efektif. Menurutnya, sholat adalah di antara hal yang dapat menyempurnakan tidur. Sholat adalah kebiasaan paling baik yang sampai sekarang diakui mampu menenangkan urat-urat saraf dan memberikan ketentraman pada jiwa.

Bahkan, sholat tak hanya menyembuhkan penyakit hati. Seperti diriwayatkan, suatu hari Abu Hurairah sakit perut, lalu Nabi SAW bersabda, “Bangkit dan shalatlah, karena sesungguhnya ada pengobatan dalam sholat.” Hasil penelitian Herbert Benson, ahli penyakit dalam dari Universitas Harvard, menunjukkan bahwa respons relaksasi bermanfaat bagi penyembuhan penyakit dan peningkatan kesehatan. Ia mengatakan, respons relaksasi dapat dirasakan pada saat sholat (dikutip Mohammad Ali Toha Assegaf [2009] dalam 365 Tips Sehat Ala Rasulullah). Singkatnya, sholat adalah perlindungan dari berbagai penyakit yang bisa menyerang tubuh.

Seorang profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Ain Syams, Dr Muhammad Zaki Suwaidan, membuktikan hal itu. Ia menulis sebuah karya ilmiah yang didasarkan pada penelitiannya tentang sholat. Sebagai kesimpulan, ia mengatakan bahwa shalat dipercaya sebagai upaya perlindungan paling efektif dari berbagai penyakit pencernaan dan penyakit kronis lainnya. Shalat juga merupakan metode paling baik untuk menjaga kesehatan.

Sementara Sabil el-Ma’rufie (2009) dalam Energi Shalat: Bangkitkan Potensi Suksesmu Melalui Shalat Lima Waktu membuat kesimpulan dari sejumlah pendapat mengenai efek psikologis shalat:
1. Pertama adalah aspek relaksasi otot, yang terjadi melalui kontraksi otot, pijatan, dan tekanan pada bagian tubuh tertentu saat melakukan gerakan shalat.
2. Kedua, relaksasi kesadaran indera. Dalam hal ini, saat shalat seorang hamba memposisikan dirinya seolah berhadapan dengan Allah tanpa perantara.
3. Ketiga adalah aspek meditasi. Selanjutnya adalah aspek auto sugesti (membimbing melalui pengulangan suatu rangkaian ucapan secara rahasia kepada diri sendiri yang menyatakan suatu keyakinan atau perbuatan) dan aspek katarsis (karena di dalam shalat ada pengaduan dan penyaluran).

Dikatakan oleh Sabil el-Ma’rufie, shalat itu sehat, untuk jasmani maupun rohani. Lebih dari itu, ia adalah penolong. Allah mempertegas semua itu dengan firmannya,

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS: al-Baqarah 45).

 

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close